Dwi Haryono,S.sos


Ketua Divisi Data dan Perencanaan

 

Biasa Bergelut Dengan Data


Memiliki usia termuda dijajaran anggota KPU Kota Samarinda tak lantas membuat sosok pria bernama lengkap Dwi Haryono, jebolan Universitas Mulawarman jurusan Ilmu Administrasi Negara tahun 2000-2006 ini menjadi sosok yang layak diperhitungkan. Sepak terjang dan kesungguhannya dalam mengemban tugas Negara sebagai pelayan suara rakyat telah dibuktikannya dalam pelaksanaan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Samarinda tahun 2015.

Menahkodai Divisi Data dan Perencanaan, pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah  37 tahun silam ini berhasil mengawal system pendataan pemilih sekaligus meminimalisir kesalahan dalam Pilkada serentak 2015 lalu. Karena tak bisa dipungkiri, bahwa soal data pemilih selama ini selalu menjadi momok dalam proses pelaksanaan Pemilu ke Pemilu. Berbekal perbaikan system yang terus menerus dilakukan oleh KPU RI, proses pendataan pemilihpun perlahan-lahan makin bagus dan akurat.

Ditengah kesibukannya sebagai anggota KPU Kota Samarinda, Dwi panggilan akrab lelaki berdarah Jawa ini bahkan masih mampu melanjutkan studinya di Pasca Sarjana (S2), Universitas Mulawarman jurusan Kebijakan Publik. “Perlahan tapi pasti, sekarang tinggal pendadaran saja,” ungkap Dwi yang saat ini tengah “mengebut” tesisnya.

Berbekal pengalaman pernah duduk sebagai komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Provinsi Kalimantan Timur, sosok penyabar ini menjajal kemampuannya untuk mendaftar sebagai anggota KPU Kota Samarinda. Tak sia-sia, hasratnya untuk mendedikasikan diri di Kepemiluan terealisasi sejak 14 Maret 2014 silam, saat ia bersama empat orang komisioner lainnya dilantik menjadi anggota KPU Kota Samarinda periode 2014 – 2019.

Perjuangan hidup yang ditempuh Dwi sejak masa mudanya pun tak semulus jalan tol. Berbagai riak dan tantangan kehidupan ia jalani dengan tegar. Bahkan menjadi penjaja sandal dan sepatu keliling pun sudah pernah dilakoninya. Dengan kegigihan dan keuletannya, perlahan-lahan Dwi mampu mewujudkan satu persatu cita-citanya, menikah, punya anak dan hidup mapan, seperti yang sudah dilakoninya saat ini.

Dengan latar belakang aktif berorganisasi tak sulit bagi suami …. Ini untuk mengemban tugas-tugas kepemiluan. Bahkan, Dwi yang sejak duduk dibangku sekolah ini selalu menjadi ketua kelas bisa dibilang piawai untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Karena bukan perkara mudah untuk membawahi para petugas ad hoc baik Panitia Pemilih Kecamatan (PPK) maupun Panitia Pemungutan Suara (PPS) dengan rupa-rupa karakternya. Apalagi mendisiplinkan mereka untuk mematuhi pengaplikasian system baru dibidang pendataan pemilih.

“Memang tak semua tenaga ad hoc itu patuh, namun semua tergantung bagaimana pola pendekatan kita kepada mereka, sekaligus bagaimana Bimtek yang kita lakukan benar-benar mereka pahami,” terang Dwi yang menghabiskan bangku sekolah di Sragen, Jawa Tengah ini dalam sebuah kesempatan.
Pernah bergabung dalam sebuah lembaga survey yang intens mengupas soal pemilih dalam Pemilu, membuat ayah dua anak ini tak canggung untuk bergelut dengan data. Perbaikan demi perbaikan pun terus digiatkannya di satuan kerja kesekretariatan KPU khususnya di divisi Data dan Perencanaan.**


Bagikan :