Imam Ardiansyah, SH


Ketua Divisi Logistik dan Keuangan

 

“Pokoknya Semua siiiip…”

Santai dan cuek meski di bawah tekanan. Masalah yang melilit tidak menjadi alas an bagi mantan Ketua KPU Kota Samarinda, Imam Ardiansyah ini untuk stress dan panik.  Semua selalu ia lalui dengan senyuman. “Pokoknya semua siiiiiip,” begitu selalu selorohnya sambil tertawa disetiap kesempatan, saat menanggapi sebuah masalah sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

Lelaki kelahiran Samarinda, 15 Maret 1971 ini memang sudah terbiasa berhadapan dengan beragam komunitas, mengingat ia terbiasa berdakwah dari satu masjid ke masjid lainnya. Pernah menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Kota Samarinda, Imam sapaan akrab ayah dua anak ini tertarik untuk bergabung sebagai anggota KPU Kota Samarinda.

Kini Imam yang kesehariannya juga berdagang ini menjabat sebagai Ketua Divisi Logistik dan Anggaran. Soal urusan surat suara, kotak suara, dialah pakarnya. Walaupun dalam perjalanan mengawal Pileg-Pilres 2014  dan Pilkada serentak 2015 ada sedikit kendala khususnya dalam hal distribusi logistik maupun pencetakan surat suara, namun semua bisa teratasi dengan baik.

Upayanya untuk menjangkau sebuah system yang bisa mengelola alur pengadaan dan pendistribusian logistic dengan baik, sesuai aturan, tepat jenisnya dan tepat waktu selalu ia koordinasikan dengan satuan kerja di sekretariat KPU Kota Samarinda.

“Segala upaya kita tempuh untuk memenuhi standart pengadaan logistik Pemilu, karena ini menyangkut kepercayaan publik,” tegas jebolan Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur jurusan Ilmu Hukum, tahun 2004 ini. Bukan tanpa alas an hal itu ia ungkapkan, karena ketika ada pihak-pihak yang mencoba memaksakan untuk ikut masuk dalam sebuah system pengadaan logistic sementara dalam aturan tidak ditetapkan, maka dengan tegas atas nama lembaga ia menolaknya. Bahkan, untuk sebuah kreatifitas dan improvisasi pun, harus tetap sesuai standart yang ditetapkan.

“Kami sadar bahwa setiap persoalan yang dihadapi penyelenggara ini kebanyakan soal persepsi dari berbagai pihak dalam mereduksi sebuah aturan. Untuk itu kita harus bijak menyikapinya,” ungkap Imam yang juga pernah mengajar di pondok pesantren Darul Ikhsan.**


Bagikan :